Pulau Seprapat Juwana Pati

Pulau Seprapat Juwana Pati

JUWANA.NET – Pulau Seprapat, Juwana Pati – Sebuah pulau yang ada di pinggiran sungai JUWANA banyak sekali menyimpan tanda tanya, banyak yang bilang pulau tersebut di gunakan untuk pesugihan, tapi apakah benar pulau yang sering di sebut dengan pulau seprapat tersebut di gunakan untuk pesugihan? Banyak yang bilang, dulunya di pulau tersebut banyak sekali monyet yang berkeliaran. Konon katanya monyel tersebut jelmaan dari orang-orang yang mengambil pesugihan di pulau tersebut. Benar tidaknya hal tersebut, kita tidak tau. Entah itu fakta atau mitos belaka. Untuk sekarang pulau seprapat tersebut tidak ada monyet yang berkeliaran. Di bulan syawal tepatnya bersaan dengan sedekah laut pulau ini di adakan pengajian untuk memperingati haul mbah datuk lodang.

Konon katanya, pada zaman Majapahit di kisahkan ada seseorang yang tidak dikenal yang selalu menyendiri, oleh karena kesendirian itu orang ini pergi merantau dan mengasingkan diri di sebuah pulau yang sekarang ini di kenal dengan nama Pulau Seprapat yang ada di Juwana Pati. Di pulau ini dia melakukan ritual pertapaan. Setelah beberapa lama menjalankan pertapaan itu, akhirnya ia berhasil mendapat pusaka yang sangat ampuh dan berkasiat. Salah satu khasiatnya yaitu dapat menyembuhkan atau mengembalikan segala sesuatu yang telah terpisah. Untuk membuktikan kasiat benda tersebut, ia mencoba memotong ular hidup – hidup menjadi dua, kemudian meletakkan pusaka di atas badan ular yang terpotong. Seketika ular tersebut dapat tersambung dan masih hidup.

Namun di lain sisi, saudara perempuannya mencarin  sampai ke pulau seprapat  Juwana Pati itu. Seketika Ia diajak pulang, namun ia menolak. Bahkan ia menceritakan kejadian-kejadian yang telah dialami selama di Pulau Seprapat. Untuk membuktikan hasil pertapaan adiknya benda yang tajam itu hujamkan pada badan adiknya. Pada percobaan pertama setelah dipotong lehernya dapat dipulihkan kembali dengan kesaktian benda tesebut. Karena belum percaya dengan kejadian tersebut maka sang kakak membuktikan sekali lagi pada sang adik. Tetapi pecobaan yang kedua mengalami kegagalan karena setelah dipenggal ternyata bagian kepala adiknya terlempar jauh ke dalam semak semak hitan pulau menghilang.

Sang kakak kebingungan lalu mencari si kepala si adek kesana kemari, Namun sayangnya tidak ketemu. Hingga akhirnya Sang kakak memutuskan menggunakan kepala kera sebagai ganti kepala adiknya. Dengan menggunakan kesaktian benda tersebut akhirnya Kepala kera dapat tersambung ke badan adiknya. Dan adiknya pun dapat kembali hidup. Akan tetapi hidup dengan berkepala kera. Adiknya yang berkepala kera tersebut akhirnya tidak mau di ajak pulang dan adiknya pun memutuskan untuk tinggal dan menjaga Pulau Seprapat.

Setelah kembali, kakaknya menceritakan panjang lebar kejadian-kejadian itu kepada tetangga dan masyarakat sekitar. Ia menceritakan bahwa adiknya di sana tidak hanya berkepala kera saja, tetapi juga telah menjadi penjaga pulau tersebut. Di samping itu, adiknya juga berkata akan menjaga harta benda Dampo Awang yang masih berada di pulai seperempat yang berjumlah seperempat dari harta bendanya yang ada. Ketika dia kalah dalam pengadaan jago. Kakak perempuannya juga mengatakan kepada penduduk bahwa harta benda Dampo Awang itu boleh dimiliki siapa saja ia mau menjadi warga Pulau Seprapat itu. Dengan keterangan-keterangan itu, maka banyak warga datang ke Pulau Seprapat untuk mencari tau kebenaran atas ceirita sang adek dan juga ada beberapa yang harta pesugihan dan kekayaan. Bahkan, disinyalir sampai sekarang. Karena tebalnya kepercayaan, maka menurut berita-berita : “Apabila orang yang ingin kaya itu telah mencapai dan sampai ajalnya, maka orang-orang itu matinya menjadi keluarga di Pulau Seprapat”. Dan menurut kenyataannya apabila yang terlaksana kekayaannya ada yang tembong ada yang guwing (bahasa Jawa). Setelah orang-orang itu meninggal, kera yang di sana dalam keadaan tembong dan guwing.

Bagi penduk asli juwana pasti mengenal apa itu pulau seprapat, pulau seprapat tersebut menjadi bagian dari luas wilayah desa bendar juwana pati. Pulau dengan pohon yang cukup tinggi itu di tengah-tengahnya terdapat sebuah makam. Dan sekarang makam tersebut sudah di renovasi oleh warga sekitar,  dimakam tersebut terdapat jasad syekh Datuk Lodang Wali Joko. Yang di peringati haulnya saat bulan syawal bersamaan dengan sedekah laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *